Sebagai tukang selingkuh agaknya Wikono, 43, sungguh berdarah dingin. Bagaimana tidak? Ny. Nanik, 32, yang dikeloni masih istri sah seseorang, tapi dia tenang-tenang saja. Selesai bercinta malah tidur berdua-dua di ranjang. Untung warga masih berbaik hati, Wikono tak dilaporkan polisi kecuali didenda bayar krakal (batu) 10 truck.

Sesungguhnya Ny. Nanik masih istri orang. Ibarat motor begitu, STNK dan BPKB-nya masih atas nama Marijo. Cuma sebagai suami dia kurang bertanggungjawab. Istri tak dikayani (diberi nafkah), kecuali hanya dikayeli (dikeloni) saja. Meski itu sebuah kewajiban, mana mungkin Nanik bisa bertahan. Ketika Marijo disuruh cari kerja yang bener tak bisa juga, terpaksa koalisi permanen yang dibangun sejak 7 tahun lalu itu ditinjau ulang. Maksudnya, mereka pisah rumah yang pada perkembangan nanti bisa saja mengarah ke perceraian.

Marijo benar-benar pergi dari rumahnya sendiri. Lalu Nanik berusaha menghidupi diri sendiri bersama kedua anaknya dengan cara berjualan. Kalau sekedar untuk makan dan minum, terpenuhi sudah. Tetapi kebutuhan manusia muda dan energik macam Nanik kan bukan hanya itu. Isi perut terjamin, jika bawah perut terlantar, bagaimana tahan? Dan terus terang saja, sejak Marijo pergi, Nanik memang tak pernah dapat sentuhan lelaki. “Kecuali Marijo yang pemalas, aku masih membutuhaknnya,” kata batin Nanik.

Sekali waktu dia berkenalan dengan Wikono, lelaki yang bukan lagi bujangan. Tapi sebagai mandor Pabrik Gula Semboro, senyum lelaki ini memang manis sekali. Lama-lama Nanik terpikat. Sebagai wanita yang kesepian, dia sangat tersanjung ketika Wikono suka memuji-muji dirinya. Katanya dia wanita keibuan, cantik lagi. Maka kata mandor PG itu lebih lanjut, bodolah lelaki yang menelantarkannya. Wuih, Nanik pun langsung klepeg-klepeg dibuatnya.

Ketika sudah akrab, Wikono mengajak Nanik berjalan-jalan. Meski dalam status istri orang, perempuan itu tanpa risih mengiyakannya. Jadilah mereka pergi keluar kota, sampai menginap segala di hotel. Jika sudah begini bisa ditebak ke mana jurusannya. Nanik yang sudah lama kesepian, akhirnya tak bisa menolak ketika diajak berhubungan intim bak suami istri. Ternyata, mandor tebu ini memang luar biasa. Jika sudah butuh, melaju saja bagaikan montit (kereta tebu) mau masuk pabrik.

Sukses di luar kota, perselingkuhan selanjutnya diteruskan di rumah Ny. Nanik di Desa Kamaran Kecamatan Semboro, Jember. Paling tidak seminggu sekali, Wikono pasti menginap di rumah Nanik dengan segala aktivitasnya. Mereka melakukan dengan tenang, karena Marijo suami Nanik memang tak pernah pulang. Begitu tenangnya, Wikono setelah selesai berhubungan intim dengan pemilik rumah tidak segera pergi, tapi malah menginap sekalian, tidur dalam satu ranjang, kekep-kekepan (berdekapan) bak Rama dan Sinta.

Enak bagi mereka, bikin sepet mata (mengganggu pemandangan) bagi warga. Mereka sudah lama memperhatikan, kenapa mandor PG Semboro ini suka bertandang malam hari dan nginap pula, padahal Nanik jelas-jelas masih istri Marijo. Mereka pun menduga, pasti di rumah Nanik ini Wikono diservis luar dalam. Buktinya, ketika pulang pagi wajah lelaki ini nampak ceria, langkahnya pun begitu mantap. “Wah, bar entuk-entukan ki (habis memperoleh sesuatu).”  Kata warga menyindir.

Lama-lama penduduk pun tersinggung, karena kampungnya dijadikan medan mesum. Untuk memberi pelajaran, Wikono yang masuk dari pukul 20.00 dan pukul 02.00 belum pulang, segera digerebeknya. Saat kamar Nanik dibuka, ya ampuuuuun, keduanya masih asyik kelonan macam suami istri saja. Keduanya pun segera digelandang ke kantor Kepala Desa, untuk disidangkan. Untungnya warga masih berbaik hati. Skandal Nanik – Wikono tak diteruskan ke polisi, tapi cukup didenda bayar 10 truk krakal untuk memperkeras jalan desa.

Makin banyak yang selingkuh, jalan desa jadi mulus, nih. (JP/Gunarso TS)

http://www.poskota.co.id/nah-ini-dia/2010/04/24/peselingkuh-berdarah-dingin-2