TUGINO, 31, bisa disebut peselingkuh paling pede di Karanganyar, Solo. Penghasilan tak menentu, berani-beraninya punya WIL. Tapi lama-lama Nursih, 28, yang diselingkuhi sadar bahwa digendak Tugino tak ada nilai tambahnya. Tragisnya, saat cintanya diputus Nursih, Tugino milih mati  minum apotas.

Kapital tak hanya dibutuhkan saat usaha dalam bisnis. Usaha dalam tata niaga asmara juga sangat memerlukannya. Sebab di era gombalisasi sekarang ini, kebanyakan wanita punya semboyan: witing tresna merga atusan lima (baca: cinta tumbuh karena tumpukan uang). Tanpa kucuran dana yang memadai, jangan harap wanita mau bertekukuk lutut dan berbuka paha untuk pria yang mengincarnya. Ada juga memang wanita yang menerima cinta lelaki bukan karena harta, tapi kini ini sudah barang langka!

Wanita langka ini salah satunya adalah Nursih, warga Desa Ngringo Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar (Jateng). Meski Tugino tak punya apa-apa, dia mau berbagi cinta dengannnya, padahal di rumah juga ada lelaki yang sangat mencintai dirinya. Tapi bapaknya anak-anak ini kasar, pemarah. Sedangkan Tugino, sifatnya lembut, suka menyanjung dan membelai-belai dirinya, terutama pada bagian tertentu…..

Begitulah hubungan asmara Tugino – Nursih terus berlanjut, dengan semua anggaran dibayar oleh pihak wanita. Sedangkan Tugino, karena hanya pekerja serabutan, tugasnya hanya memuaskan Nursih di atas ranjang saja. Dan Tugino pun semakin mbagusi, karena sekali waktu gendakannya ini pernah bilang: “Mas, sampeyan rasah cucul apa-apa, cucul kathok we wis cukup (Anda tak perlu keluar biaya, lepas celana saja sudah cukup),” kata Nursih seusai bercinta di sebuah losmen.

Sepandai-pandai Nursih  mengemas selingkuhnya bersama Tugino, lama-lama suami tahu juga. Dia mengadu pada mertua, sehingga Nursih diomeli keluarga dari segala penjuru. Lama-lama dia sadar bahwa menjalin cinta dengan pekerja serabutan dari Desa  Brujul Kecamatan Jaten itu sama sekali tak ada nilai tambahnya. Nursih mulai kembali ke jalan yang benar dan mencoba meninggalkan Tugino yang telah memberi kenikmatan ragawi selama ini.

Koalisi permanen yang diputus secara sepihak ini menjadikan Tugino kelabakan. Dia rugi dua kali jadinya. Ya kehilangan uang, ya kehilangan goyang. Tugino mencoba mendekati Nursih lagi, tapi semua telepon dan SMS-nya tak pernah dijawab. Saking kesalnya, dia pernah mengancam. “Kau memutuskan cintaku, tunggu saja tanggal mainnya, aku bunuh diri di depan rumahmu!” kata Tugino lewat SMS dan terbaca oleh ibu si Darsih.

Tapi Nursih yang sudah sadar tetap tak menggubris. Itu artinya, Tugino mau bunuh diri seribu kali sehari di depan rumahnya, silakan saja. Bak teroris yang tuntutannya tak ditanggapi, Tugino benar-benar kesal dibuatnya. Untuk membuktikan bahwa dia bukan pria penakut dengan kematian, apa yang telah dikatakan pada Nursih benar-benar diwujudkannya. Beberapa hari lalu dia ditemukan mati bunuh diri dengan minum racun apotas. Cuma, tempatnya bukan di depan rumah mantan doi, tapi di kamar rumah sendiri.

Polisi Polres Karanganyar memastikan,  Tugino memang mati bunuh diri, bukan karena penganiayaan oleh pihak lain. Tinggalah kini anak dan istrinya yang menderita. Nikmatnya selingkuh tak dibagi, tapi setelah menjadi mayat, keluarga juga yang jadi repot karenanya. Paling memalukan keluarga adalah: matinya Tugino gara-gara urusan selingkuh.

Orang Solo bilang: ngisin-isinke waris! (SP/Gunarso TS)

http://www.poskota.co.id/nah-ini-dia/2010/05/03/cinta-kandas-minum-apotas