AGAKNYA  Wito, 40, beranggapan bahwa selingkuh itu hak setiap anak bangsa. Maka meskipun pekerjaannya hanya tukang becak, sah-sah saja punya WIL. Tapi bagi Tasmi, 37, yang diduakannya, tentu saja tak terima. Maka dengar kabar suami punya anak dari dari gendakannya, langsung dia minta cerai sepulang dadi jadi TKW.

Pejabat dan politisi punya WIL, itu sudah biasa. Sebab anggaran untuk “dua dapur” yang dimilikinya, pasti melimpah ruah. Tapi kalau tukang becak macam Wito berani punya selingkuhan, itu sungguh luar binasa. Apa pula yang diandalkannya? Duit, mencari barang Rp 100.000,- sehari saja susah banget, kok berani-beraninya punya WIL. “Modal selingkuh tukang becak, ya “genjotan”-nya, Mas….,” kata Wito beralasan, tanpa tedeng aling-aling.

Memang, dia punya WIL si Wulan, 40, memang hanya modal “entong” bukan kantong. Sebab yang kebelet punya suami memang si wanita, lantaran hingga usia hampir kepala empat belum punya suami. Maka meski pun hanya dikawin siri dan dijadikan bini kedua, dia mau saja. Yang penting terbebas dari stempel “prawan kasep”. Kata orang pula, perempuan yang sudah kambon wong lanang (baca: menikah), pintu rejekinya semakin terbuka.

Awalnya Wito tak berniat punya WIL atau gendakan. Tapi setelah istrinya pergi jadi TKW ke Malaysia, ada sesuatu yang membuatnya cotho (ada yang hilang). Biasanya suhu udara di Sragen tempat tinggalnya terasa anget kemrisik, kini menjadi dingin sekali hampir 5 drajat di bawah nol. Lalu kemudian muncul sosok Wulan, yang lumayan cantik, tapi belum punya suami. Perempuan ini juga sudah punya cekelan (pekerjaan), tapi belum pernah nyekel-nyekel (megang-megang). Dan dilihat dari gerak-geraknya, kok sepertinya memberi angin,  begitu.

Ternyata betul. Ketika Wito mulai sedikit kurang ajar, Wulan langsung memberi respon. Cuma dia kemudian bilang bahwa tak mau main-main. Jika hubungan ini dirajut, harus koalisi permanen. “Aku memang tahu status sampeyan, tapi itu tak masyalah, karena aku bisa menghidupi diriku sendiri,” kata Wulan blak-blakan, sebelum buka-bukaan, tentunya. Perawan tua itu lebih lanjut mengingatkan: yang penting Wito tetap sehat, rajin nggenjot di jalan, juga nggenjot di rumah. Namanya juga tukang becak……

Nah, dikala Wito juga posing karena lama tak ketemu istri, diam-diam dia pun menikahi Wulan secara siri. Begitu SIM sementara diperoleh, ibarat sepeda motor keluar dari dealer, Wulan langsung dicemplak dalam rangka in reyen. Biar tahun lama, tapi karena tak pernah dipakai, ya semlintir (enak) juga. Buktinya, setahun menikah siri, Wulan berhasil punya anak berkat genjotan si tukang becak asal Desa Mojorejo Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen ini.

Perkawinan siri Wito maunya disimpan rapat-rapat, tapi akhirnya Tasmi di Malaysia dengar juga. Namun apa mau dikata, kontrak kerjanya belum selesai. Begitu dia pulang, barulah dia berhitung dengan suaminya. Ternyata benar, Kang Wito sudah punya anak dengan WIL-nya itu. Dia segera minta cerai, tapi ternyata Wito tidak mau. Bahkan mengancam: “Kalau kamu minta cerai, tak siram air keras sekalian, ben ra payu laki (biar tak laku kawin)…,” kata Wito sengit. Tasmi yang tahu perilaku suaminya selama ini, segera melapor ke Polsek Karangmalang tentang ancaman itu.

Sedia payung sebelum hujan air keras ya mbak? (SP/Gunarso TS)

http://www.poskota.co.id/nah-ini-dia/2010/04/30/selingkuh-modal-%E2%80%9Cgenjotan%E2%80%9D