– Orang Jawa punya falsafah: trimoa sing nglakoni, mangsa trimoa sing momong (orangnya menerima, tapi Tuhan akan murka). Ny. Pawiti, 38, benar-benar mengalami. Ketika dia merelakan suaminya selingkuh, Tuhan langsung menghentikan aksi mesum Sigit – Murni lewat kecelakaan maut saat mereka naik motor.

Motivator Mario Teguh berulang kali mengingatkan, jika Anda menerima segala penderitaan itu dengan ikhlas, itu pertanda akan dimuliakan Tuhan. Tapi tidak banyak orang yang bisa menyikapi penderitaan dengan cara demikian. Pada umumnya, orang akan mengeluh ketika berkubang dalam derita, meski itu sebetulnya sedang diuji oleh Sang Pencipta. “Tuhan tidak adil, kenapa aku menderita seperti ini, padahal rajin ibadah. Sedangkan si Anu, ke tempat ibdah tidak pernah, tapi karena kerja di Kantor Pajak, bisa kaya raya….,” keluh seorang umat yang frustrasi.

Ny. Pawiti dari Malang (Jatim) tertawa mendengar orang mengirikan oknum berselingkuh dengan uang negara. Padahal dia, yang ditinggal suami berselingkuh dengan perempuan lain, tetap senyum-senyum saja. Dia memang punya keyakinan, ketika dilarang di tengah kenikmatan selingkuh, suami pasti tidak akan menggubris. “Nengke wae, nek bosen rak leren dhewe (biarkan saja, jika sudah bosan kan berhenti sendiri),” begitu tekad wanita dari Desa Sukoanyar Kecamatan Wajak ini.

Sebetulnya sudah lama Pawiti mencium Sigit, 47, suaminya ada main dengan wanita lain. Sekali waktu dia pernah memergoki SMS mesra di ponsel suami. Tapi ketika dipertanyakan soal SMS itu, Sigit malah marah-marah macam pejabat terkorek harta kekayaannya yang tidak resmi. Suami Pawiti memang dalam posisi serba repot saat itu. Jika harta pejabat, beralasan “hibah” semuanya jadi beres. Tapi kalau WIL, mana mungkin dijawab itu perempuan hasil hibah? Ayam pun pasti tertawa terkekeh-kekeh.

Saat mengetahui suami cintanya mendua, sebetulnya sakit hati juga. Tapi Pawiti kemudian sadar, lelaki model Sigit ini jika dihalangi kemauannya pasti mberot (nekad). Karenanya, dengan memohon kekuatan dari Allah SWT, dia kemudian mengiklaskan saja suami main perempuan di luar rumah. Prinsip dia kini, ibarat sebuah botol, silakan isinya diecer-ecer ke mana-mana, yang penting: gendule tetep digawa molih (botol tetap kembali). Karenanya, sejak saat itu meski suami tak pulang karena kelon dengan perempuan lain, dia tak ambil posing.

Ketika ummatnya dalam rasa ikhlas menyikapi penderitaan itu, akhirnya kembali juga pada filosofi lamanya orang Jawa itu tadi: trimoa sing nglakoni, mangsa trimoa sing momong. Dan Tuhan pun dengan mudah menghentikan aksi Sigit yang akan membuat kerusakan di muka bumi. Saat dia boncengan motor bersama Murni, 45,  gendakannya, tahu-tahu motornya nyungsep nabrak trotoar di Jalan Mayjen Sungkono, Kedungkandang. Keduanya tewas di tempat, dengan luka parah di kepala masing-masing.

Ketika dikabari suami meninggal bersama gendakannya, Ny. Pawiti masih juga bisa meneteskan air mata. Dia menduga, suaminya habis kencan dengan Murni di Wajak.  Tak adakah rasa dendam di hatinya? Di RS Saiful Anwar Malang saat mengambil jenazah suaminya, Ny. Pawiti menggeleng. Dia beralasan, sejelek-jeleknya Sigit, dia adalah suami dan bapaknya anak-anak yang sangat dicintai. “Aku menerima saja kelakuan suamiku begitu, tapi ternyata Tuhan menghentikannya dengan cara lain,” kata Pawiti pilu.

Kasihan Pawiti, “gendul” itu tidak pulang tapi malah dibuang. (JP/Gunarso TS)

http://www.poskota.co.id/nah-ini-dia/2010/04/26/selingkuhnya-dihentikan-tuhan